Rabu, 30 Agustus 2017

mengenal ilmuwan indonesia pengharum negara dimata dunia

“MENGENAL ILMUWAN INDONESIA PENGHARUM NEGARA DIMATA DUNIA”
Oleh:
Siti Li’amanah
Institut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro

Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk yang sangat besar, dengan sistim demokrasi terbesar ketiga di dunia, serta perekonomian terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, Indonesia juga merupakan negara dengan kekayaan sumber daya alam yang luar biasa sehingga kerap kali menjadi incaran negara-negara maju. Pesatnya jumlah angka kelahiran bayi dan pluralisme yang ada dari segi agama, ras, suku dan budaya menuntut Indonesia agar berpegang teguh pada landasan Bhinika Tunggal Ika dengan komitmen yang kuat. Akan tetapi, di era globalisasi seperti sekarang ini, era dimana pengetahuan dan tegnologi menjadi hal yang sangat urgen dikalangan masyarakat, ironisnya pada era ini Indonesia menghadapi tantangan pembangunan di bidang lingkungan hidup, pengetahuan, sumber daya manusia yang melemah dan lainnya. Era globalisasi merupakan era dimana persaingan dunia semakin ketat dan tidak dapat dihindari, sehingga pada era ini pengetahuan dan tegnologi menjadi kebutuhan pokok bagi suatu Negara agar mampu bertahan dengan persaingan global dan berupaya mengenalkan negara pada dunia, sehingga hal yang demikian menjadi tonggak pemukul lahirnya ilmuawan-ilmuwan Indonesia yang mampu membawa harum nama Indonesia diseluruh penjuru dunia dengan penemuannya yang hebat, namun, sangat disekali bahwa fakta yang ada tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengenal para ilmuwan pejuang Negara tersebut. Kebanyakan dari kita hanya memanfaatkan penemuan-penemuanya tanpa mengetahui siapa yang menemukannya dan bahkan kemungkinan besar dunia lebih dahulu mengenal mereka sebelum masyarakat Indonesia mengenal siapa mereka.
Mengenal Ilmuwan Indonesia Pengharum Negara Dimata Dunia
Bacharuddin Jusuf Habibie (B. J. Habibie)
Salah satu ilmuwan Indonesia yang mungkin kita kenal diantaranya adalah B. J. Habibi seorang ilmuwan Indonesia yang sudah tidak asing lagi di telinga kita, Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo.
Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda ini, harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung. Tidak lama setelah bapaknya meninggal, Habibie pindah ke Bandung untuk menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya. Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk Universitas Indonesia di Bandung (Sekarang ITB). Beliau mendapat gelar Diploma dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 yang kemudian mendapatkan gekar Doktor dari tempat yang sama tahun 1965. Habibie menikah tahun 1962, dan dikaruniai dua orang anak. Tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung. Langkah-langkah Habibie banyak dikagumi, penuh kontroversi, banyak pengagum namun tak sedikit pula yang tak sependapat dengannya. Setiap kali, peraih penghargaan bergengsi Theodore van Karman Award, itu kembali dari “habitat”-nya Jerman, beliau selalu menjadi berita. Habibie hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia. Di Indonesia, Habibie 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto. Soeharto menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan Pasal 8 UUD 1945. Sampai akhirnya Habibie dipaksa pula lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato Pertanggung jawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga Negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.
Pemikiran-pemikiran Habibie yang “high-tech” mendapat “hati” pak Harto. Bisa dikatakan bahwa Soeharto mengagumi pemikiran Habibie, sehingga pemikirannya dengan mudah disetujui pak Harto. Pak Harto pun setuju menganggarkan “dana ekstra” untuk mengembangkan ide Habibie. Kemudahan akses serta kedekatan Soeharto-Habibie dianggap oleh berbagai pihak sebagai bentuk kolusi Habibie-Soeharto. Apalagi, beberapa pihak tidak setuju dengan pola pikir Habibie mengingat pemerintah Soeharto mau menghabiskan dana yang besar untuk pengembangan industri-industri teknologi tinggi seperti saran Habibie.
Tanggal 26 April 1976, Habibie mendirikan PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan menjadi industri pesawat terbang pertama di Kawasan Asia Tenggara (catatan : Nurtanio meruapakan Bapak Perintis Industri Pesawat Indonesia). Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985, kemudian direkstrurisasi, menjadi Dirgantara Indonesia (PT DI) pada Agustuts 2000. Perlakuan istimewapun dialami oleh industri strategis lainnya seperti PT PAL dan PT PINDAD.
Sejak pendirian industri-industri statregis negara, tiap tahun pemerintah Soeharto menganggarkan dana APBN yang relatif besar untuk mengembangkan industri teknologi tinggi.  Dan anggaran dengan angka yang sangat besar dikeluarkan sejak 1989 dimana Habibie memimpin industri-industri strategis. Namun, Habibie memiliki alasan logis yakni untuk memulai industri berteknologi tinggi, tentu membutuhkan investasi yang besar dengan jangka waktu yang lama. Hasilnya tidak mungkin dirasakan langsung. Tanam pohon durian saja butuh 10 tahun untuk memanen, apalagi industri teknologi tinggi. Oleh karena itu, selama bertahun-tahun industri strategis ala Habibie masih belum menunjukan hasil dan akibatnya negara terus membiayai biaya operasi industri-industri strategis yang cukup besar.
Industri-industri strategis ala Habibie (IPTN, Pindad, PAL) pada akhirnya memberikan hasil seperti pesawat terbang, helikopter, senjata, kemampuan pelatihan dan jasa pemeliharaan (maintenance service) untuk mesin-mesin pesawat, amunisi, kapal, tank, panser, senapan kaliber,  water canon, kendaraan RPP-M, kendaraan combat dan masih banyak lagi baik untuk keperluan sipil maupun militer.
Sebagian Karya beliau dalam menghitung dan mendesain beberapa proyek pembuatan pesawat terbang :
VTOL ( Vertical Take Off & Landing ) Pesawat Angkut DO-31.
Pesawat Angkut Militer TRANSALL C-130.
Hansa Jet 320 ( Pesawat Eksekutif ).
Airbus A-300 ( untuk 300 penumpang )
CN – 235
N-250 Dan secara tidak langsung turut berpartisipasi dalam menghitung dan mendesain:
Helikopter BO-105.
Multi Role Combat Aircraft (MRCA).
Beberapa proyek rudal dan satelit. Sebagian Tanda Jasa/Kehormatannya :
1976 - 1998 Direktur Utama PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara/ IPTN.
1978 - 1998 Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia.
Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi / BPPT
1978 - 1998 Direktur Utama PT. PAL Indonesia (Persero).
1978 - 1998 Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam/ Opdip Batam.
1980 - 1998 Ketua Tim Pengembangan Industri Pertahanan Keamanan (Keppres No. 40, 1980)
1983 - 1998 Direktur Utama, PT Pindad (Persero).
1988 - 1998 Wakil Ketua Dewan Pembina Industri Strategis.
1989 - 1998 Ketua Badan Pengelola Industri Strategis/ BPIS.
1990 - 1998 Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-lndonesia/lCMI.
1993 Koordinator Presidium Harian, Dewan Pembina Golkar.
10 Maret - 20 Mei 1998 Wakil Presiden Republik Indonesia
21 Mei 1998 - Oktober 1999 Presiden Republik Indonesia.

DR. Warsito P. Taruno, M.Eng
DR. Warsito P. Taruno, M.Eng lahir di Karanganyar, 15 Mei 1967, saat ini DR. Warsito tinggal di Jl. Hartono Raya, R 28, Modernland, Tangerang atau C-CARE Klinik Riset Kanker, Kawasan Alam Sutera kavling Spektra, Blok 23 C No. 10-11, Tangerang Selatan - Banten ((Dekat toko mebel Candra karya furniture), Phone : 021-29315015 Fax : 021-29314861. DR. Warsito yang di kenal sebagai Sang penemu Alat Pembunuh Kanker ini merupakan salah satu ilmuwan Indonesia yang memiliki segudang prestasi. Dengan kesederhaannya, ia telah berhasil membuat harum bangsa Indonesia dengan penemuannya, meski banyak timbul pro dan kontra atas penemuannya tersebut.
DR. Warsito ialah salah satu dari “50 Tokoh” Revolusi Kaum Muda (Gatra, Edisi Khusus 2003), “10 yang Mengubah Indonesia” versi majalah Tempo (Edisi Khusus Akhir Tahun 2006) dan juga terpilih menjadi salah satu dari “100 Tokoh Kebangkitan Indonesia” Versi Majalah Gatra (Mei 2008). Di dunia akademisi Internasional, DR. Warsito dikenal sebagai pioneer dalam teknologi tomografi, yaitu teknologi untuk memindai berbagai macam objek dari tubuh manusia, proses kimia, industri perminyakan, reactor nuklir hinga perut bumi. Penemuannya yang paling spektakuler adalah tomografi volumetric 4D yang dipatenkan di Amerika dan lembaga paten internasional PTO/WO tahun 2006. Teknologi temuannya ini telah digunakan oleh NASA (Lembaga Antariksa Amerika Serikat) untuk memindai obyek dielektrika pada pesawat ulang-alik selama misinya ke antariksa.
Menurut jurnal yang diterbitkan oleh American Chemistry Society, teknologi temuan DR. Warsito diperkirakan akan mengubah drastis perkembangan riset dan teknologi di berbagai bidang ilmu, dari energi, proses kimia , kedokteran, hingga nano teknologi. Saat ini DR. Warsito telah membangun pusat riset dan produksi system tomografi 4D yang pertama di dunia yang berpusat di Tangerang, banten. Produk institusinya 100% di produksi di dalam negeri dengan melibatkan ilmuwan lokal dan telah mulai di pasarkan ke Amerika Serikat.
Penemuan lainnya DR. Warsito dalam bidang tegnologi ialah Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT). Dunia industri energi, perminyakan dan kimia di Amerika digemparkan dengan rilis teknologi terapan anyar yang dikeluarkan oleh Ohio State University. Adalah ECVT, atau electrical capacitance volume tomography, sebuah teknologi yang menggunakan sensor medan listrik statis yang bisa menampilkan gambar 3 dimensi dari tingkah laku gas dan partikel di dalam reaktor tertutup. Teknologi ini mengadopsi cara scanning atau fotokopi yang bisa melihat secara real time dan 3 dimensi gerak gas dan partikel di dalam boiler, maupun reaktor industri. ECVT ini memiliki akurasi yang tinggi, dan menjadi cikal bakal teknologi berbasis clean energy. Teknologi yang lahir di “research center” yang tidak lebih dari sebuah ruangan kecil di sebuah warnet di Tangerang ini, telah dipatenkan oleh Dr. Warsito, yang menjadi penemunya. Para industriawan dan ilmuwan teknologi terapan bisa menggunakan ECVT ini untuk observasi komposisi bahan di dalam reaktor kimia pada industri, kelakuan minyak di pengilangan, kepekatan gas di reaktor untuk instalasi tenaga listrik, kelakuan gas di dalam reaktor nuklir, dan masih banyak reaktor terapan lainnya yang bertekanan tinggi dan suhu tinggi.
Teknologi yang sama bisa diterapkan pula ke dalam berbagai bidang seperti kedokteran, pertambangan, proses kimia, hingga body scan untuk keperluan security. Sebagaimana rumah sakit yang memakai USG maupun MRI untuk mengetahui gejala penyakit di dalam tubuh, maka kalangan industri pun memerlukan teknologi yang sama, yaitu menggunakan tomography untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam boiler, tangki reaktor maupun reaktor tekanan tinggi secara akurat dan real time. Demikian ditekankan oleh DR. Warsito, yang menjadi penemu sekaligus pemilik paten teknologi ECVT ini.  Teknologi tomography ini kemudian di bawa ke Amerika bekerjasama dengan Profesor L. S. Fan dari OSU dengan merintis teknologi tomography baru berbasis medan listrik statis. Profesor Fan sendiri semula tidak percaya dan bahkan tidak memahami temuan canggih ini. Tetapi setelah Dr. Warsito mendapat pengakuan dari asosiasi teknik kimia di Amerika dan juga asosiasi industri minyak disana, baru Profesor Fan tertarik. Profesor Fan kini menjadi terkenal karena ECVT, meskipun telah dipatenkan oleh Dr. Warsito yang beralamat di Tangerang. Paten ECVT tersebut bernomor 60/664,026 tahun 2005 dan 60/760,529 tahun 2006 yang terdaftar dalam dokumen paten AS.
Di bidang keorganisasian, Warsito adalah salah satu pendiri dan ketua umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia (MITI). Selama menjabat sebagai ketua umum MITI sejak tahun 2005, DR. Warsito telah membangun jaringan MITI di seluruh Indonesia dan luar negeri, terutama MITI-Mahasiswa di kurang lebih 50 kampus di 26 Propinsi di seluruh Indonesia. Program utama yang dilancarkan MITI ialah meningkatkan kualitas akademis dan kemampuan riset mahasiswa Indonesia, serta membantu pengembangan SDM mahasiswa Indonesia.
Ekonomi merupakan bidang kedua yang digeluti DR. Warsito sejak tahun 1994 secara otodidak. Semasa kecilnya, sama seperti anak desa pada umumnya, Warsito menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan bermain di sawah dan memelihara ternak. Meski demikian, anak keenam dari delapan bersaudara ini termasuk siswa yang cemerlang. Dia gemar membaca buku apa saja, tanpa mengenal waktu dan tempat. Kecerdasan Warsito juga tidak bisa dilepaskan dari peranan kedua orang tuanya. Sang ayah selalu mendorongnya untuk selalu maju, sedangkan ibunya selalu memotivasi agar melakukan segala sesuatu pekerjaan dengan dasar ketulusan dan ketabahan.
Tokoh ilmuwan Indonesia dengan segudang prestasi yang mendunia ini mengawali prestasinya dengan riwayat pendidikan sebagai berikut:
SMAN 1 Karanganyar, Solo 1986
Tokyo International Japanese School, Tokyo 1988
Shizouka University, B. Eng, Chemical Engineering, 1992
Shizouka University, M.Eng, 1994
Shizouka University, Ph.D Electronic Science and Technology, 1997
Pengalaman Kerja yang dimiliki oleh Warsito Purwo Taruno ini juga sangat banyak diantaranya:
Researcher, Satellite Venture Businee Laboratory Shizouka University, Japan (1997 - 1999)
Lecturer, Graduate School of Engineering, Shizouka University, Japan (1997 - 1999)
Research Associate, Dept of Chemical Engineering, Ohio State University, USA (1999 - 2006)
Dosen Pascasarjana, MIPA-FISIKA UI, Jakarta (2005 - Sekarang)
Visiting Lecturer, Dept of Chemical Engineering Shizouka University, Japan (2005 - Sekarang)
Director, CTECH Centre for Tomography Research, PT. EDWAR Tech , Tangerang (2008 - Sekarang)
Visitor Senior Scientist, National Laboratory of Physics and Chemistry (RIKEN), Japan (2008 - Sekarang)
Visiting Professor, Dept Of Chemical Engineering, University Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia (2008 - Sekarang)
Visiting Professor, Dept Of Chemical and Biomolecular Rngineering, Nanyang Technological University, Singapore (2009)
Visiting Professor for Advance Studies, King Saud University, Saudi Arabia.
Selain profesi diatas DR. Warsito P. Taruno, M.Eng juga memiliki beberapa aktivitas lain, sebagai berikut:
Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia (2005 - Sekarang)
Editor tamu/Reviewer jurnal Internasional IEEE Sonsor Journals (US), Measurement Scuence and technology (UK)
Anggota International Committee for Industrial Process Tomography
Pembimbing Tesis/tugas akhir FMIPA Fisika-UI website
Ilmuwan kelahiran karanganyar ini juga sering kali meraih Awards:
Baiquni Award bidang sains dan matematika dari Universitas Gadjah Mada (UGM), 1985
American Institute of Chemist Foundation Outstanding Post-doctoral Award, 2002
Achmad Bakrie Award, 2009.

3. Evvy Kartini
Evvy Kartini (Bogor, 22 April 1965) adalah Fisikawan Indonesia yang ahli dalam teknologi tenaga nuklir dan salah satu dari sepuluh ahli sejenis yang ada di dunia. Ia dikenal sebagai ilmuwan penemu penghantar listrik berbahan gelas dengan teknik hamburan netron yang berdaya hantar sepuluh ribu kali lipat dari bahan sebelumnya.
Riwayat Pendidikan Evvy Kartini meliputi. Ia merupakan seorang Sarjana Fisika lulusan Institut Teknologi Bandung, Hahn Meitner Institute (HMI) di Berlin, Jerman, 1990. Lulusan Postdoctoral dari Departemen Fisika dan Astronomi Universitas McMaster, Hamilton, Kanada.
Di Indonesia, teknologi tenaga nuklir masih menjadi hal yang asing. Namun ternyata kita boleh berbangga, sebab Indonesia justru memiliki seorang ahli yang prestasinya telah diakui dunia. Doktor rer. Nat. (rerum naturalium) Evvy Kartini adalah salah satu dari hanya sepuluh ahli sejenis yang ada di dunia. Di kalangan internasional, Evvy memiliki reputasi terhormat. Ia dikenal sebagai ilmuwan penemu penghantar listrik berbahan gelas. Bagi kebanyakan orang, gelas biasanya hanya dipergunakan sebagai barang pecah belah alat rumah tangga. Namun tidak begitu bagi Evyy Kartini. Karena itulah, saat mendapat kesempatan belajar di Jerman, ia mulai menjajaki penelitian terhadap material gelas. Saat itu sarjana Fisika lulusan Institut Teknologi Bandung itu magang di Hahn Meitner Institute (HMI) di Berlin, Jerman, 1990. Evvy pun dibimbing ahli hamburan neutron Prof. Dr. Ferenc Mezei.
Adapun karier penelitian Evvy dimulai ketika menyelesaikan S2-nya. Waktu itu ia berhasil menemukan model baru difusi dalam material gelas. Evyy kemudian membuat berbagai penelitian dari bahan gelas. Seperti saat ini, ia membuat baterai mikro yang dapat diisi ulang. Baterai yang merupakan hasil proses dengan metode teknik hamburan neutron itu, mampu menghasilkan daya yang lebih besar dibanding baterai yang ada saat ini dan juga ramah lingkungan. Hasil riset yang dilakukan oleh Evvy sudah mendapat tanggapan dari para pelaku industri di dalam negeri. Kolega-koleganya di dunia internasional juga telah mengirimkan surat kesediaan untuk mengucurkan dana puluhan ribu dolar Amerika Serikat guna penelitian penerima Satya Lencana Wira Karya dari Presiden Megawati Sukarnoputri--presiden saat itu. Ia pun mulai berkolaborasi dengan profesor dari Organisasi Sains dan Teknologi Nuklir Australia (ANSTO). Keberhasilan yang diperoleh Evvy sekarang ternyata tidak didapat begitu saja. Sebelum menemukan bahan-bahan gelas berpenghantar listrik superionik, sempat membuatnya putus asa. Karena, biaya dan fasilitas penelitian di Tanah Air, tidak memungkinkan dilakukan penelitian. Bahkan, saat melanjutkan studinya di Jerman, banyak pengorbanan yang dilakukannya. Akibat kegigihan dan semangat pantang menyerah, Evvy mendapat gelar doktor dengan predikat cumlaude.
Sederet prestasi lainnya juga didapat saat Evvy berada di Jerman. Dan, yang paling berkesan adalah saat terpilih sebagai wanita Asia pertama yang mengikuti Program Hercules. Pada 1994, namanya mulai tercatat dalam jurnal penelitian internasional bergengsi seperti Physica B. Sejak itu, tawaran presentasi dan konferensi mengalir deras.
Karier penelitiannya dimulai saat menyelesaikan S2-nya di Universitas Teknik Berlin. Ia berhasil menemukan model baru difusi dalam material gelas. Penemuan itu dipresentasikan pada Konferensi Internasional Hamburan Netron (ICNS) Jepang. Maka namanya mulai tercatat dalam jurnal penelitian internasional bergengsi seperti Physica B (1994). Sejak itu, tawaran presentasi dan konferensi mengalir deras. Tahun 1996, melalui kolaborasinya dengan profesor dari Universitas Mc Master, Kanada, Evvy kembali menemukan hal baru: adanya puncak Boson pada saat energi rendah. Temuan itu dipresentasikannya pada 600 peserta konferensi hamburan netron Eropa I/ECNS di Interlaken, Swiss. Namanya kembali tercatat dalam jurnal internasional, Canadian Journal of Physics (1995), Physical Review B (1995), dan Physica B (1997). Ia pun mulai berkolaborasi dengan profesor dari Organisasi Sains dan Teknologi Nuklir Australia (ANSTO). Profesor itulah yang membuka jalan untuk berkolaborasi dengan banyak profesor lain di negara maju. Penelitian tentang bahan-bahan superionik berbahan gelas ia mulai tahun 1996, sepulang dari Jerman. Ia sempat frustrasi karena terbatasnya fasilitas, tetapi tetap tekun menyiapkan eksperimen, seperti difraksi Sinar X dan pengukuran suhu serta konduktivitasnya, untuk dikirim ke Chalk River Laboratory, Kanada.
Sudah sejak dulu para ilmuwan di dunia berlomba-lomba melakukan riset dan pengembangan solid state ionics. Namun, kata Evvy masalah utama riset solid state ionics ialah pencarian padatan superionik untuk elektrolit padat komponen baterai, yang memiliki konduktivitas tinggi pada suhu ruang. Untuk itu, Evvy melakukan penelitian dan pengembangan gelas superionik sebagai material baterai isi ulang. Gelas merupakan materi yang memiliki struktur acak (disorder) yang dikenal manusia berabad-abad lalu, dan ditemukan di Mesir sekitar 300 SM. Adapun gelas superionik terbentuk dari tiga komponen, yaitu pembentuk gelas, pengubah gelas, dan garam dopan.Gelas superionik ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan elektrolit polikristal, termasuk tidak memiliki batas butir, mudah dibuat, memiliki suhu leleh rendah, dan konduktivitas ionik tinggi pada suhu ruang. Sejauh ini, Evvy telah memberikan kontribusi cukup besar dalam penelitian dan pengembangan gelas superionik (AgI)x(AgPO3)1-x lewat program Riset Unggulan Terpadu yang didanai Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Dia memanfaatkan material NH3H2- PO4 dan AgNO3 yang dipanaskan dalam furnace sampai meleleh pada suhu 400 derajat Celsius. Lalu, formula tersebut didinginkan dengan cepat dalam lingkungan nitrogen cair, sehingga menghasilkan gelas bening dan transparan, yaitu AgPO3. “Jika ditambah AgI, produk gelas AgIAgPO3 berwarna kuning transparan,” kata Evvy. Tahap uji coba gelas supersonik tersebut di antaranya lewat karakterisasi material elektrolit dan elektroda yang dihasilkan serta uji coba dalam performan baterai. Karakterisasi paling penting adalah menguji sifat listrik dari gelas yang dibuat. Contohnya AgPO3 dengan konduktivitas ionik ~10E-7 S/cm (Siemen per sentimeter). Jika ditambah AgI produk gelas AgI-AgPO3, konduktivitas meningkat sepuluh ribu kali menjadi ~10E-3 S/cm. Hal itu terjadi pada gelas konduktor ionik lainnya, seperti pada gelas lithium LiPO3 dan LiI-LiPO3, walau konduktivitasnya lebih rendah dari gelas berbasis perak.
Akhirnya pada 1998-2000 namanya tercatat di sepuluh jurnal bergengsi sebagai peneliti utama. Segudang prestasi berkaliber internasional tidak membuat Evvy lupa dengan kodratnya sebagai seorang istri dan juga ibu. Di rumah, ibu dua anak kelahiran 22 April 1965 itu, selalu menyempatkan diri mendampingi buah hatinya beraktivitas. Beragam kegiatan, pastilah rasa lelah kadang menghinggapi Evvy. Namun ia memiliki cara jitu untuk mengusirnya yakni cukup dengan bermain piano.
Beberpa penghargaan yang diperoleh oleh evvy kartini, Tahun 1998 ia menerima penghargaan Riset Unggulan Terpadu (RUT) VI dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi atas penelitiannya berjudul "Sintesa dan Karakterisasi Bahan-bahan Gelas Superionik (AgI)x(AgPO3)1-x". Tahun itu juga, ia menerima tawaran program postdoctoral di Kanada. Sungguh kebetulan. Ia tidak perlu menyupervisi contoh yang akan dieksperimen di Kanada. Bersama Prof Dr MF Collins, ia mencoba memahami mekanisme konduksi dari bahan gelas bersifat superionik dan mengamati ketergantungan suhu bahan-bahan superionik. Saat itu pula ia mulai berkolaborasi dengan para profesor peneliti netron dari Jepang dan Inggris, negara-negara terkemuka dalam penelitian netron. Kolaborasi menghasilkan fenomena dinamika ion dalam bahan-bahan gelas. Penemuan besar yang dicari para ilmuwan dari berbagai belahan dunia. Sederet prestasi lainnya juga didapat saat Evvy berada di Jerman. Dan, yang paling berkesan adalah saat terpilih sebagai wanita Asia pertama yang mengikuti Program Hercules. Pada 1994, namanya mulai tercatat dalam jurnal penelitian internasional bergengsi seperti Physica B. Sejak itu, tawaran presentasi dan konferensi mengalir deras.
Akhirnya pada 1998-2000 namanya tercatat di sepuluh jurnal bergengsi sebagai peneliti utama. Dalam tempo dua tahun, 1998-2000, namanya tercatat di sepuluh jurnal bergengsi sebagai peneliti utama. Selain tercatat di jurnal Physica B, Evvy juga menulis buku Solid State Ionics (2001) bersama profesor dari Jepang.
Hasil riset yang dilakukan oleh Evvy sudah mendapat tanggapan dari para pelaku industri di dalam negeri. Kolega-koleganya di dunia internasional juga telah mengirimkan surat kesediaan untuk mengucurkan dana puluhan ribu dolar Amerika Serikat guna penelitian penerima Satya Lencana Wira Karya dari Presiden Megawati Sukarnoputri--presiden saat itu. Ia pun mulai berkolaborasi dengan profesor dari Organisasi Sains dan Teknologi Nuklir Australia (ANSTO).

4. Dr. Rohadi Awaludin
Dr. Rohadi Awaludin merupakan salah seorang ilmuwan MITI yang merupakan peneliti di bidang pengembangan teknologi produksi radioisotop dan radiofarmaka. Beberapa teknologi produksi radioisotop telah berhasil dikembangkan dan dimanfaatkan di bidang kesehatan, industri, pertanian dan pengelolaan sumber daya alam. Dr. Rohadi menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Kanazawa Jepang, dan pendidikan S2 dan S3 di Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST). Selain sebagai peneliti bidang radioisotop dan radiofarmaka, Dr. Rohadi juga menaruh minat pada masalah masalah knowledge management dan innovation system.
Diantara penelitian yang pernah dilakukan oleh rohadi awaludin ialah mengenai manfaat teknologi nuklir di bidang pangan yang dipaparkan olehnya dalam majalah beranda MITI edisi 4, sebagaimana berikut:
Pengendalian hama Radiasi dengan dosis yang tinggi dapat meyebabkan rusaknya system reproduksi suatu organisme. Kondisi ini dapat menyebabkan kemandulan. Efek ini dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama tanaman dengan memanfaatkan hama/serangga jantan yang telah dimandulkan. Teknologi ini sering disebut dengan teknik serangga mandul (sterile insect technique, SIT). Di bidang budidaya tanaman pangan, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk beberapa jenis hama. Misalnya, pengendalian lalat buah bactrocera carambolae. Hasil penelitian menunjukkan bahwa radiasi dengan dosis sekitar 90 Gy dapat menyebabkan kemandulan pada lalat jantan. Lalat jantan yang mandul tersebut selanjutnya disebar ke wilayah terserang hama tersebut. Lalat lalat jantan tersebut membuahi lalat-lalat betina namun telur yang dihasilkan tidak menetas. Sebagai hasilnya, populasi lalat buah akan mengalami penurunan. Selain di bidang pangan, teknologi ini juga dapat dimanfaatkan di bidang kesehatan, yaitu dalam pengendalian populasi serangga vektor penyakit.

Prinsip kerja teknik serangga mandul (source:www.nature.com)
Pengolahan dan pengawetan makanan Pengawetan makanan dilakukan agar bahan makanan tidak mudah rusak selama penyimpanan. Secara tradisional, pengawetan makanan dapat dilakukan melalui pengeringan, pemanasan, pengasapan dan sebagainya. Namun cara cara ini memiliki keterbatasan dan dapat merubah sifat makanan. Teknik nuklir menawarkan manfaat dalam pengawetan makanan dengan menggunakan sifat sifat radiasi nuklir. Efek radiasi dapat dimanfaatkan untuk mematikan bakteri bakteri pembusuk yang ada di dalam bahan makanan sehingga dapat memperpanjang masa simpan Beberapa jenis rempah rempah dan tanaman obat dapat dibebaskan dari kuman (sterilisasi) menggunakan radiasi. Selain membunuh kuman, radiasi nuklir dapat pula menghambat tumbuhnya tunas. Efek ini telah dimanfaatkan untuk pengawetan beberapa jenis bahan makanan seperti bawang, kentang, kunyit dan sebagainya. Radiasi nuklir dapat pula menunda kematangan buah . Efek ini dapat dimanfaatkan untuk memperpanjang masa simpan buah segar. Pengawetan bahan makanan dengan radiasi nuklir memiliki berbagai kelebihan. Diantara kelebihan tersebut adalah dapat dilakukan setelah pengemasan, tidak menggunakan bahan tambahan, tidak merubah sifat bahan makanan serta dapat dilakukan untuk berbagai bentuk bahan makanan, termasuk dalam kondisi beku. Berbagai kelebihan ini terus dikembangkan manfaatnya untuk pengawetan berbagai bahan makanan, khususnya bahan makanan yang tidak dapat diawetkan dengan metode lain.
Tabel 1. Jenis jenis pemanfaatan radiasi pengion yang telah disetujui oleh badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat (US FDA).
Product Dose (kGy) Purpose DateWheat, wheat flour 0.2-0.5 Insect disinfestation 1963White potatoes 0.05-0.15 Sprout inhibition 1964Enzymes (dehydrated) 10 max Microbial control 4/18/86Fruits 1 max Disinfestation, Ripening delay 4/18/86Vegetables 1 max disinfestation 4/18/86Herbs 30 max Microbial control 4/18/86Spices 30 max Microbial control 4/18/86Vegetable seasonings 30 max Microbial control 4/18/86Poultry, fresh or frozen 3 max Microbial control 5/2/90Meat, frozen 44 min sterilization 3/8/95Animal feed and pet food 2-25 Salmonella control 9/28/95Meat, uncooked, chilled 4.5 max Microbial control 12/2/97Meat, uncooked, frozen 7.0 max Microbial control 12/2/97Dikutip dari publikasi US-FDA
Sebagai perunut pertanian
Seperti telah dinyatakan di atas bahwa salah satu sifat radioisotope adalah dapat dideteksi dengan mudah. Sifat ini dapat dikombinasikan dengan sifat bahwa radioisotop memiliki sifat kimia yang sama dengan isotop isotop lain dalam satu unsur. Sifat kimia suatu atom ditentukan oleh konfgurasi elektron, bukan oleh struktur inti atomnya. Oleh sebab itu perbadaan struktur inti atom antara radioisotop dengan isotop lainnya tidak menyebabkan perbedaan sifat kimia. Misalnya unsur fosfor. Fosfor di alam tersusun dari isotop P-31. Radioisotop P-32 yang dibuat dari isotop S-31 memiliki sifat kimia yang sama dengan P-31. Kesamaan sifat kimia ini dapat dimanfaatkan untuk menelusuri gerakan atau dinamika suatu senyawa tertentu. Misalnya di bidang pertanian, dinamika senyawa fosfat dapat ditelusuri dengan menggunakan fosfat bertanda P-32. Fosfat bertanda P-32 adalah fosfat dimana atom P yang ada didalamnya telah diganti dengan P-32. Fosfat jenis ini dapat digunakan untuk menelusuri dinamika fosfat di dalam tanah dan di dalam tanaman. Informasi tersebut sangat bermanfaat dalam pengembangan metode budidaya tanaman pangan.

Sebaran fosfor hasil injeksi di dalam tanaman dapat diamati dengan mudah menggunakan perunut radioisotop P-32 (sumber:http://spmchemistry.wikispaces.com).

Setelah kita mengetahui beberapa ilmuwan Indonesia yang telah membawa harum nama Negara di mata dunia, layaknya kita sebagai generasi penerus kemerdekaan bangsa, generasi yang akan turut berjuang dalam peperangan dunia era globalisasi, maka, kita dituntut untuk menguasai tegnologi dan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga hal tersebut bisa menjadikan motivasi dalam diri kita dan memupuk semangat kita untuk menjadi pengharum nama negara pada generasi berikutnya.

Sumber
Awaludin, Rohadi. manfaat teknologi nuklir di bidang pangan, Majalah Beranda MITI edisi 4, Membangun Iptek Untuk Kedaulatan Pangan Lokal Indonesia, Nomor ISSN: 2354-5836 MITI Press, Tangerang, hal 81-85.
Ismail, Otto. Biografi Presiden Habibie, Rabu, 05 Desember 2012 17:40. hal 1-4.
http://siradel.blogspot.com/2013/06/profile-dr-warsito-p-taruno-meng.html?.
http://m.liputan6.com/news/read/89461/evvy-kartini-ahli-nuklir-kaliber-internasional&ei.
https://blogpenemu.blogspot.com/2015/08/evvy-kartini-penemu-penghantar-listrik.html?.
https:// nusantaraku.Biografi (Lengkap) BJ Habibie : Bapak Teknologi dan Demokrasi Indonesia April 2, 2009.